Tentang Kami
Tentang Kami
Profil dan Kesaksian Khriscahyady
Beban untuk terlibat dalam pelayanan Sahahabat Seperjalanan lahir dari pengalaman burn out sekembalinya dari ladang pelayanan misi di China.
Selama menjalani proses pemulihan dari burnout melalui konseling, bertemu pembimbing rohani dan mentor, saya menyadari bahwa dibalik semangat, kegigihan dan keteguhan saya melayani Tuhan sebenarnya ada begitu banyak issue tentang diri yang saya tidak berani proses dengan orang lain karena takut di tolak dan di cap hamba Tuhan yang lemah atau kurang beriman.
Dalam proses melalui perjalanan pemulihan tersebut, saya dan istri diberi kerinduan untuk menjadi sahabat bagi para Utusan Lintas Budaya (ULB) dan hamba Tuhan yang kami tau sedang bergumul dengan masalah indentitas, relasi dan seksualitas. Kami rindu melihat ada wadah yang aman bagi para ULB (Utusan Lintas budaya) dan pemipin Kristen untuk bisa berbagi beban dan issue mereka tanpa harus takut dihakimi.
Ketika sedang menggumuli beban ini, Tuhan secara ajaib mempertemukan kami dengan Pak Krisnadi dan keluarga (yang sebelumnya kami tidak kenal) melalui Ibu Shelfie Tjong. Saat mendengar kisah pengalaman mereka dan beban yang Tuhan berikan kenapa harus kembali ke Indonesia, itu seperti sebuah peneguhan akan beban yang Tuhan taruh dihati kami. Tuhan mempertemukan dengan orang-orang yang memiliki beban dan hati yang sama.
Dari situlah kami mulai terlibat dalam pelayanan Sahabat Seperjalanan dan belajar menjadi sahabat bagi mereka yang rapuh dan bergumul.
Profil dan Kesaksian Shelfie Tjong:
Shelfie Tjong, lahir di Jakarta, anak sulung dari tiga bersaudara, hobby: menikmati Tuhan melalui alam yang indah dan mendengar suara-suara burung bernyanyi, ngopi dan kuliner, serta menikmati/bermain musik; motto hidup saya adalah Saya diberkati untuk menjadi berkat bagi orang lain.
Apa yang mendorong terlibat di SS:
Saya teringat saat puluhan tahun yang lalu saya pernah mengikuti seminar tentang stres pada hamba-hamba Tuhan; dan muncul pertanyaan ”siapa yang melayani para hamba Tuhan yang harus melayani banyak orang?”. Selain itu, dengan latar belakang saya sebagai anak hamba Tuhan, saya sendiri mengalami pengabaian karena kesibukan orangtua dalam pelayanan yang menyebabkan saya tumbuh dengan kesepian yang mendalam dan kekosongan kebutuhan emosi akan kasih, penerimaan dan peneguhan.
Tuhan banyak memproses dan memulihkan luka hati dan jati diri yang terdistorsi melalui proses yang panjang. Perjalanan rohani dan pemulihan saya ini memberi beban tersendiri untuk saya bisa terlibat dalam pelayanan bagi para hamba Tuhan dan keluarganya, agar hamba Tuhan lebih menyadari bahwa keluarga pun adalah bagian penting yang membutuhkan perhatian dan pelayanan mereka.
Saat rekan saya Pak Krisnadi membagikan bebannya, saya tergerak untuk mengambil bagian dengan apa yang Tuhan telah lakukan dan proses dalam kehidupan saya; untuk menjadi sahabat seperjalanan bagi sesama rekan hamba-hamba Tuhan dan keluarganya.
